-->

Kenangan, Harapan, dan Kasih dari Bumi Cendrawasih

Berenang di Teluk Cendrawasih (IG: @ponxxpapua)
            Bumi Cendrawasih begitulah julukan yang masyhur untuk provinsi ini, mengalami beberapa kali perubahan nama hingga akhirnya kini di kenal dengan nama “Papua”.  Membahas Papua mungkin tidak aka nada habisnya mulai kekayaan ayam yang berlimpah, suku dan Bahasa yang beragam, sampai keindahan alam yang begitu memesona. Hal ini tentunya sama seperti secuil lirik lagu karya Franky Sahilatua:  

“Tanah Papua tanah yang kaya, surga kecil jatuh ke bumi. Seluas tanah sebanyak madu, adalah harta harapan. Tanah papua tanah leluhur. Disana aku lahir. Bersama angin bersama daun. Aku di besarkan.”

Tanah Papua adalah tanah yang kaya, berlimpah ruah hasil buminya, eksotis alamnya, serta keanekaragaman hayati yang dihuni flora dan fauna endemik. Sehingga layaklah ketika papua dijuluki tanah surga. Ada tambang besar di tanah Papua yang menghasilkan emas, nikel,tembaga,gas,uranium,dan yang lainnya. Papua juga dipenuhi burung endemik yang sangat indah bulunya dan merdu suaranya. Jika menyelami lautan akan menemukan keindahan alam bawah laut yang dihiasi batu karang dan ikan-ikan yang beragam warna.   

 Sebagian dari kita, mungkin hanya mengenal Papua hanya dari layar kaca.  Karena letaknya yang jauh di ujung timur Indonesia. Namun Papua lambat laun mulai tumbuh perekonomiannya, maju peradabannya, dan semakin gencar pembangunannya. 

Menginjakkan Kaki Pertama Kali di Bumi Cendrawasih

Bandara Sentani di Jayapura (SC: website angkasa pura)
         “Bapak dan Ibu yang terhormat, sebentar lagi kita akan mendarat di Bandara Sentani di Jayapura. Waktu setempat sekarang menunjukkan pukul 06 lewat 40 menit di pagi hari. Waktu di Jayapura adalah 2 jam lebih cepat daripada waktu di Jakarta.” Begitulah sepenggal pengumuman dari salah satu maskapai yang akan membawaku pertama kali menginjakkan kaki di Bumi Cendrawasih. Kala itu, diri ini masih merasa kantuk, namun kucoba untuk membuka mata dan melihat keindahan alam papua dari udara. Indah memang, pepohonan yang hijau ditambah lagi pemandangan danau sentani yang begitu memesona. “Alhamdulillah, begitu indah ciptaan-Mu” ucapku dalam hati.  

              Namun hari itu hanya sebentar saja aku singgah di Jayapura, untuk transit ke perjalanan selanjutnya. Alhamdulillah, 3 tahun setelahnya dapat menginjakkan kaki di Kota Jayapura. Sepanjang perjalanan dari Bandara Sentani ke Kota Jayapura jalanan sudah semakin ramai. Mobil dan motor saling bersalip-salipan untuk duluan sampai ke tempat tujuan. Kiri kanan terlihat beberapa bangunan gedung dan infrastruktur yang megah baru saja selesai dibangun. Kata pengemudi saat itu, ini dibangun untuk mempersiapkan kegiatan Pekan Olahraga Nasional ke XX nanti. 

Jembatan Youtefa (dok. PUPR)
                Kota Jayapura adalah ibu kota Provinsi Papua yang tak kalah megah disbanding kota-kota di Indonesia lainnya. Beberapa gedung berdiri megah menghiasi pusat kota, mulai dari pusat perbelanjaan, hotel, sampai dengan kantor pemerintahan. Ada satu buah jembatan ikonik berada di Jayapura, yang menghubungkan Kota Jayapura, Kampung Hamadi, dan Distrik Muara Tami. Jembatan ini membentang di atas Teluk Youtefa dengan total panjang 11,6 km. Jembatan ini diresmikan langsung oleh Presiden Jokowi bertepatan pada Peringatan Hari Sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 2019. Gambar jembatan ini juga terpampang pada uang peringatan kemerdekaan 75 tahun Republik Indonesia nominal 75.000. Jembatan itu dinamai Jembatan Youtefa sesui dengan permintaan masyarakat setempat.

              Tetapi Papua bukan hanya Kota Jayapura saja, ada 28 Kabupaten dan Kota lainnya yang masuk ke dalam wilayah administrasi Provinsi Papua. Dimana masing-masing daerah memiliki keunikan tersendiri, baik keindahan alam, suku, budaya, maupun tempat wisatanya. Misalnya saja jika ingin berwisata ke danau ada Danau Sentani, danau yang memiliki luas 9.360 hektar ini adalah danu terbesar di dataran Papua. Dengan ketinggian 75 meter di atas permukaan laut serta sedikitnya dihiasi 21 pulau yang berada di danau semakin memanjakan mata yang melihatnya. Pilihan lain jika ingin pergi ke danau, ada Danau Painai yang disebut sebagai danau terindah saat Konferensi Danau se-Dunia tahun 2007 lalu di India yang diikuti oleh 157 negara. Berada di ketinggian 1.700 mdpl dan dengan luas 14.500 hektar, serta menawarkan pemandangan yang indah berhiaskan siluet tebing-tebing, burung-burung yang beraneka ragam, dan perahu-perahu nelayan sekitar.

              Jika ingin menyaksikan festival yang unik bisa berkunjung ke Lembah Baliem. Lembah yang menjadi tempat tinggal suku Dani, Lani, dan Yani ini terletak di sekitaran Pegunungan Jayawijaya. Suhu di dana bisa mencapai 10 – 15 derajat Celcius pada malam hari, karena lembah ini berada pada ketinggian 1.600 mdpl.  Mayoritas suku asli di sini masih menggunakan pakaian adat merek, yakni koteka bagi pria dan rok rumbai bagi perempuan. Sebelum adanya pandemi ini biasanya rutin diadakan Festival Lembah Baliem setiap bulan Agustus selama tiga hari. Festival ini merupakan cara pemerintah untuk menghapuskan perang antar suku yang pernah atau bahkan sering terjadi sebelumnya. Jadinya di dalam festival ini merupakan pertunjukan seni perang antar suku untuk menarik wisatawan lokal maupun mancanegara.

              Pilihan lain yang suka berwisata ke lautan bisa berkunjung ke Taman Nasional Teluk Cendrawasih. Taman ini memiliki luas 1.453.500 hektar dengan 90% berupa perairan laut. Taman ini menjadi kawasan konversi laut terbesar dan terluas di Indonesia. Jika ingin berinteraksi langsung dengan hiu paus, kura-kura, penyu hijau, hiu, dan lumba-lumba kalian bisa langsung menyelam ke dalamnya. Selain itu, di taman ini terdapat 196 jenis moluska dan 209 jenis ikan yang bisa dilihat pada alam bawah lautnya.  

                Lain lagi jika kalian adalah para pendaki gunung, kalian bisa mengunjungi Pegunungan Jayawijaya. Pegunungan ini memiliki dua puncak yang terkenal, yakni puncak carstensz dengan ketinggian 4884 mdpl yang termasuk dalam jajaran tujuh gunung tertinggi lima benua, atau bisa juga ke Puncak Jaya yang memiliki salju abadi. Sebenarnya masih banyak lagi wisata yang bisa dikunjungi di Bumi Cendrawasih ini namun kalua lebih enaknya jika bisa mengunjungi ke tempatnya langsung.

Harapan dari Bumi Cendrawasih
Festival Lembah Baliem (dok: Pegipegi.com)

Bumi Cenderawasih terus berbenah, membangun, dan tumbuh. Ada doa dan harapan dari semua masyarakat agar Papua menjadi lebih baik lagi dalam segala hal. Saya coba mengintip website pemerintah paua di papua.go.id di sana terdapat visi yang luhur dari rakyat Papua yakni,“Papua Bangkit, Mandiri, dan Sejahtera yang Berkeadilan”. Visi ini bak menjadi harapan baru dari timur Indonesia.

              Visi tersebut merupakan harapan yang ingin dicapai dengan menjalankan 5 misi berikut ini:

  • Memantapkan kualitas dan daya saing SDM
  • Memantapkan rasa aman, tentram,dan damai serta kehidupan demokrasi dalam memperkuat NKRI
  • Penguatan tata kelola pemerintahan
  • Penguatan dan Percepatan Perekonomian Daerah sesuai potensi unggulan lokal dan pengembangan wilyah berbasis kultural
  • Percepatan pembangunan daerah tertinggal, terbelakang, terdepan

Apabila misi tersebut dapat dijalankan dengan baik dan benar maka visi yang menjadi harapan rakyat Papua akan tercapai. Tentunya hal tersebut adalah kerja dan usaha dari seluruh elemen yang ada di Papua dan tentunya disertai dengan berkat dan pertolongan Tuhan Yang Maha Esa.

Kasih Untuk Semua Pejuang Kemenangan di Perhelatan PON XX

PON XX (Sc: ponxx2020.com)
    Bulan Oktober nanti Bumi Cendrawasih akan mempunyai hajatan agung, pagelaran istimewa yang dinantikan pegiat olahraga di seluruh penjuru Nusantara. Pekan Olahraga Nasional atau yang lebih dikenal dengan nama PON akan dihelat disana. Pagelaran PON ini merupakan yang pertama kali diselenggarakan di tanah papua. Bebagai persiapan tealah dilakukan untuk mensuksekan kegiatan ini mulai dari infrastruktur pendukung, transportasi, dan lainnya. Tentunya dengan diadakannya PON XX ini diharapkan membuka harapan-harapan lain bak mentari yang bersinar di ujung timur Indonesia. Semuanya diawalai dari olahraga dan dilanjutkan pada aspek lainnya.

Logo dan maskot PON XX dan filosofisnya 

Stadion Lukas Enembe adalah stadion termegah di timur Indonesia yang memang dipersiapkan untuk perhelatan PON XX nanti. Stadion yang telah memenuhi standar FIFA dan bertaraf internasional tersebut telah menjadi ikon Papua. Momentum ini akan menjadi tonggak kebangkitan harapan dari timur Indonesia, dan akan melahirkan para juara. Stadion ini juga menjadi logo PON kali ini yang bermakna  menjadi simbol pemersatu. Logo PON kali ini juga syarat akan makna dan nilai filosofis. Selain itu PON XX juga dilengkapi dengan dua maskot yang ikonik, yakni Kangpho dan Drawa. Kangpho merupakan gambaran kanguru pohon mantel emas yang menjadi salah satu hewan endemik di Papua. Sedangkan Drawa merupakan gambaran sosok burung cendrawasih dengan panjang sekitar 34 cm dan meiliki nama latin Paradissaea raggiana. Kedua maskot tersebut juga syarat akan makna dan filosofi. Tagline yang digunakan pada PON XX kali ini adalah “Torang Bisa!”. Torang Bisa! adalah sebuah kata penyemangat khas timur Indonesia yang diharapkan memunculkan harapan dan juga semangat para atlet untuk berjuang menjadi juara.

              Sebagai tuan rumah PON XX, atlet PON Provinsi Papua nantinya akan bertanding dengan atlet dari 33 Provinsi lainnya dari seluruh Indonesia. Mereka akan bertanding pada 37 cabang olahraga yang terbagi menjadi 56 disiplin olahraga dengan 679 nomor pertandingan. Diperkirakan aka nada sebanyak 6442 atlet dari seluruh penjuru Indonesia yang akan memperebutkan 2212 medali. Nantinya ada empat kabupaten/kota yang akan menjadi venue pertandingan yakni, Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Kabupaten Mimika, dan Kabupaten Merauke. Sebagai informasi bagi pecinta olahraga di seluruh penjuru Nusantara panitia PON XX telah menyediakan update berita, jadwal, serta informasi lainnya yang bisa diakses pada website https://www.ponxx2020papua.com/.

              Selain itu untuk menggelorakan semangat PON XX “Mentari Harapan Baru dari Timur” yang digelar di ujung timur Indonesia supaya dirasakan seluruh masyarakat Indonesia panitia juga mengadakan berbagai macam lomba dan kegiatan yang bisa diikuti oleh semua orang. Perlombaan itu dinamakan ”PONDEMI”, yang terdiri dari tujuh program   yaitu: Virtual Ride, Virtual Run, Kelas Inspirasi, Kolaborasi Anak Negeri, Pondemi Stand Up Comedy, Kompetisi Blogger, dan Torang Show. Informasi lengkapnya bisa mengunjungi website https://pondemi.ponxx2020papua.com/home .

              Papua adalah batas ujung timur Indonesia, masyarakat papua lebih dahulu melihat mentari terbit daripada daerah lainnya. Mentari itu terbit dari timur ke barat, Papua adalah mentari harapan baru dari timur yang akanmenyebarkan harapan dan semangat kepada seluruh bangsa Indonesia. Papua itu adalah bagian dari Indonesia, Indonesia kurang lengkap rasanya tanpa Papua. Selamat berjuang seluruh kontingen yang akn bertanding, jaga sportivitas, semangat, pantang menyerah, dan jadilah juara. Sukses untuk penyelenggaraan PON XX nya. Ada sebuah pantun penutup dari saya, semoga menghibur. 
    
Pergi berlibur ke danau sentani
Di pinggir danau terlihat jamur
Tanah Papua bagaikan mentari
Mentari harapan baru dari timur

4 Responses to "Kenangan, Harapan, dan Kasih dari Bumi Cendrawasih"

  1. bagaimana ceritanya bung, Anda dari Jatim bisa merantau nun jauh di papua?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena kerja di Papua Barat bung,

      Delete
    2. saya baca tulisan Anda mengenai tes lowongan Kasir di BI anda memilih lokasi di Jatim, apa anda memang tdk ditempatkan di Jatim?

      Delete
    3. Dulu pada saat awal tes bisa memilih penempatan kak. Tapi tesnya di Jatim saat itu.

      Delete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel