Itulah rumah


Letupan amarah yang tak terbendung lagi
Menggerakkan langkah kaki untuk mencari
Ke sudut dan tepi batas bumi
Ada jalan dengan berjuta kisah
Penuh dengan jejak telapak kaki
Satu arah menuju tempat singgah
Itulah rumah

Tetesan air mata tak juga berhenti
Diiringi gerak bibir yang mencerna kata hati
Bak hujan yang terus membasahi bumi
Airnya mengalir menuju sebuah bendungan kecil
Menghimpun air mata yang datang dari berbagai arah
Untuk sejenak singgah
Itulah rumah

Bibir yang tertutup celahnya masih bisa menampakkan gigi
Manis terasa, mata memandang cahayanya masuk ke hati
Musim dingin terkadang menjadikan tubuh membeku
Tangan dan badan adalah sehangat-hangatnya dekapan
Mencairkan kedinginan, menggantinya dengan lentera kehangatan
Ditutupnya dengan kecupan mesra di dahi bawah
Menjadikannya telelap di atas sajadah,
Itulah rumah,

Gelak tawa berpacu tanpa beradu,
Seperti kuda yang berlari tanpa henti,
Bersuara lantang namun tak bermaksud menantang
Hanya merayakan genggaman kebersamaan
Terkadang ingin melayangkan beberapa ciuman
Menjadi obat hati-hati yang selalu menderita sakit
Sakit yang tak mampu untuk menjadi parah
Karena sembuh di tempat singgah
Itulah rumah

0 Response to "Itulah rumah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel