Cerita PKL di PPF-LIPI Serpong : Dikala Hujan

Lapangan sekaligus taman di PUSPITEK, Serpong, Tangerang , Selatan foto : Alaik Murtadlo

Lelah dan penat semalam membuatku tak berdaya, semua raga ini terasa lara, hingga ku  rindu akan hangat dekap bunda, dingin terasa hingga memaksaku membuka mata, dan betapa terkejut diriku malam telah buta karna sang surya merasa perkasa diatas dunia, terangkat ragaku dari peraduan berjalan melangkah menuju ke pemandian, membasuh penat penat yang sedari tadi menggila, menguasai raga yang cacat dosa, kubuka permadani permadani untuk menyelimuti sujudku pada Yang Maha Esa, kulantunkan doa doa perebus dosa hingga ia menjadi udara dan berhembus hilang bersama angin pagi ini (Serpong)

Bangun pagi aku ketika adzan subuh mengusik tidurku, memaksaku bersujud kepada Yang Maha Tahu. Namun kurasa ini bukanlah suatu paksaaan melainkan kewajiban. Masih saja lapar mengeram di perutku. Tak sesuap nasipun kudapatkan,hingga aku memutuskan untuk membuka sebungkus energen kacang hijau dan kutelan mentah mentah. Hingga tak terasa karena senandung burung pagi menghiasi hari ini mentari sudah meninngi.

Teringat akan baju yang masih dalam rendaman. Dan akupun membilas pakaian tersebut dan kujemur di depan kos kosan Setelah itu akau mandi dan kuputuskan untuk pergi ke kamar ketiga temanku, untuk sekedar menanyakan sesuap nasi jua,,hahaha. Namun betapa terkejutnya diriku ketika harus mendengar kabar bahwa nenek dari temanku Firdaus Eka Setiawan telah meninggal dunia, dan ia harus sesegera mungkin kembali ke Surabaya. Dan diapun mencari tiket kereta untuk perjalanan pulang ke Surabaya, dengan kereta api Gumarang tujuan Surabaya Pasar Turi. Meskipun itu menurutku berat, namun apalah daya melawan kehendak Yang Maha Kuasa. Mungkin inilah jalan yang lebih tepat bagi dia, pasti semua akan ada hikmahnya. Sabar ya kawan, kami turut berbela sungkawa, dan maaf ini hanya melalui kata kata. Dan tak lupa kupanjatkan do’a untukmu jua. Semoga Tuhan melindungi perjalananmu dan menjamin keselamtanmu sampai tujuan.

Setelah lama disitu aku ikut menonton serial TV korea berjudul school, ternyata bagus juga filmnya hingga tak terasa jam di dinding telah merambat menunjukkan pukul setengah tiga. Dan kuputuskan untuk kembali ke kamar untuk menunaikan shalat dzuhur hingga kudapatkan ketenangan dalam hati karena menuntaskan pangiilan Ilahi Rabbi. Sambil menanti datangnya waktu ‘Ashar ku memutar lagu daam laptopku sambil mencari inspirasi untuk merangkai kata kata dalam puisi. Dan yang kunantikanpun datang sebuah lantunan indah kata kata samawi, mengagungkan kesucian Tuhan dan mengajak untuk menunaikan shalat. Tak kusia siakan kesempatan ini dan segera kuambil air wudlu dan kulakukan shalat.

Sudah keinginanku dari tadi pagi untuk pergi ke warnet, mencari cari informasi tentang hal -hal yang kubutuhkan nanti serta mengirimkan file file yang kuanggap penting. Dan setelah Shalat Ashar kuputuskan pergi keliling mencari warnet, namun harap harap cemas menghampriku karena cuaca lagi mendung dan pakaian yang kucucu kutinggalkan begitu saja dan tetap pada jemuran. Kulangkakan kaki menjauh pergi dan akhirnya kutemukan sebuah warnet. Kuputuskan untuk masuk dan menempati salah satu tempat duduk dan kujalankan billingnya. Karena keasyikan browsing computer yang aku pakai sampai error,maklumlah masih Pentium 4, dan kudengar  diluar sana hujan mulai mengguyur bumi serpong. Tapi apa boleh buat semuanya sudah terlanjur, mau pulang untuk mengangakat jemuran juga nanggung, belum nanti jika aku nanti basah kuyup. Uhm,, dan kuputuskan untuk tetap browsing saja sambil menunggu hujan reda. Kira-kira pukul lima sore hujan telah mereda dan kulihat billing di komputerku sudah satu jam dua puluh tiga menit, yang akhirnya aku stop billing tersebut serta kuakhiri pencarianku dalam dunia maya. Akhirnya aku pulang setelah membayar biaya internetanku sebesar empat ribu lima ratus. Disepanjang jalan masih kulihat banyak genangan air dipinggir jalan, begitu mengalir dari tinggi kerendah dan hujan tetap saja turun meskipun rintik-rintik. Akhirnya sampai juga di kos-kosan dan jemuranku terlihat basah kembali, lalu kuangkat dan kugantung di depan kamar.

Tak berapa lama berkumandang muadzin menyuarakan adzan, dan itu adalah pertanda masuk waktu maghrib. Dan akhirnya aku shalat maghrib dan kulanjutkan shalat isya’ selang beberapa waktu. Lalu kuputuskan untuk menuju ke kamar temanku firman yang kesepian karena ditinggal teman PKLnya. Sambil memegang stik bermain PES 2013 kami sedikit mengobrol tentang segala hal. Dan akhirnyapu malam menghampiri lalu aku menuju ke kamar untuk tidur.
Selamat pagi,untuk esok pagi. J

0 Response to "Cerita PKL di PPF-LIPI Serpong : Dikala Hujan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel